Tampilkan postingan dengan label pOrTraiT oF LifE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pOrTraiT oF LifE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2008

iTs mY LessOn LearNed...

Serasa canggung kembali ke rumah mayaku ini, setelah memang beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sedikit masalah yang menyita perhatian saya dan membuat konsentrasi lumayan buyar sehingga jarang banget sowan ke rumah teman-teman dan jarang updating blog. Tapi setelah ada seorang sahabat yang berbaik hati menjadi temanku curhatku, akhirnya saya mulai menyadari kesalahanku bersikap dalam menghadapi masalahku...

Tapi sudahlah, saya sekarang kembali dengan sebagai KruciaL yang sama seperti dulu, KruciaL yang suka jalan kaki ke tengah-tengah kota, yang suka merhatiin wanita tua berjalan dengan gerobaknya, bapak tua yang hidup sendiri dan semua orang-orang yang mungkin ga punya hidup seberuntung kita. Trus ngapain gara-gara masalah kecilmu, kamu jadi berantakkan?.... ~tolol mode on~ saya mungkin memang tolol waktu itu, tapi bukankah ini menjadi rasa yang lain yang perlu saya rasakan untuk bikin hidup saya lebih hidup... ~iklan mode on~

Selanjutnya tetep karena mau akhir tahun, review film-film terbaik tahun ini akan tetap menjadi agenda utama blog ini ( jangan bosan yah bacanya ) sama satu lagi masih pengen ngreview film tentang bali blast ( Long Road To Heaven ) tapi masih tonton ulang terus filmnya berkali-kali soalnya takut salah ngomong jadinya ribet tar...

Terakhir saya persembahkan lirik dari sebuah lagu yang bagus...

".... Life perfect ain't perfect if u dont know what you've struggle for,
falling down aint falling down if don't cry when you hit the floor...
...yes, i was burn but i call it lesson learned... "

~ lesson learned by Alicia Augello Cook~
Read More..

Kamis, 30 Oktober 2008

wAniTa iTu....

Aku..., aku menitih langkah dengan berat, langkah yang tak terarah, langkah yang aku tatihkan bertahun-tahun dan terasa semakin melelahkan tiap waktunya. Aku seorang wanita tua... tapi aku tak yakin wanita tua bisa melakukan apa yang aku lakukan. Aku tak berpunya, aku tak punya rumah, bersamaku hanya ada rangkaian besi tua beroda yang mereka sebut gerobak tua, tapi bagiku itulah rumahku, rumah yang aku dorong tiap hari.

Rumah..., rumah itu indah bagiku, tempat dimana aku sembunyi dari panas yang membakar dan angin malam yang tiap harinya memaksa masuk kedalam tubuh rentaku. Didalam rumah itu secarik tubuh renta, kecil dan ringkuk terbaring. Tubuh itu adalah tubuh seorang lelaki yang aku sebut suami, tubuh yang sama yang pernah berpeluh keringat berusaha mengumpulkan sekeping kebahagiaan bagiku. Namun tubuh itu sekarang tak berdaya pada hidup, tubuh itu sakit dan ingin segera menyatu dengan tanah.

Anak..., aku pun tak ingat apakah aku pernah memiliki buah cinta itu?, yang aku ingat waktu itu ada seorang gadis kecil yang kutimang dengan kedua tanganku dan memanggil aku dengan sebutan ibu dan bapak pada suamiku. Gadis kecil manis yang mirip dengan suamiku. Berpuluh tahun yang lalu gadisku ini berusaha mengubah hidup kami, ia pergi ke negeri orang. Aku sangat senang pada waktu itu... ternyata gadis kecilku sedah menjadi dewasa dan ingin sekali membahagiakan aku dan suamiku yang sudah mulai lelah ini, tapi impianku untuk menikmati masa tua ku tak direstui oleh Penciptaku, gadisku hilang tak ad kabar. Aku kehilangan!... ya dia hilang, tak tahu bagaimana nasibnya di negeri orang, tapi aku juga ta punya daya untuk mencarinya.


Aku takut, aku tak tahu sampai kapan aku harus berjalan dengan rumah dan suamiku, aku tak punya tempat untuk memberhentikan rumah dan suamiku. Aku takut!... aku takut dengan orang-orang berseragam itu!, orang-orang berbadan tegap yang selalu ingin berusaha menyingkirkan kami dengan alasan keindahan kota dan kenyamanan masyarakat, tapi bukankah kami juga merupakan bagian dari keindahan hidup ini?, dan bukankah kami juga bagian darimasyarakat itu?, tapi kenapa mereka tidak mempedulikan keindahan hidup dan kenyamanan hidupku?.

Sore itu..., sore itu kulihat mata seorang anak lelaki, pandangan mata manusia yang selama ini membuat aku dan suamiku bertahan hidup. Ya... itu adalah mata iba, mata iba itu terus menatapku, gamang melihat padaku, ia ragu apakah harus berhenti kepadaku atau terus mengejar pandangan indah hidupnya, keindahan yang takkan pernah aku dapatkan. Mata iba itu masih bingung untuk memberikan sedikit hidup padaku, mata itu hilang, mata itu lebih memilih bertatap pada pijar lampu kota. Aku tak kecewa, paling tidak aku tahu mata iba itu telah sedikit memberikan aku tenaga untuk melewati hari ini. Dan bukankah mata muda itu masih memiliki banyak waktu untuk memperhatikan dan melakukan sesuatu yang lebih baik untuk sekitarnya.

Aku lelah!, tapi aku tak ingin berhenti. Aku tak ingin hidup meninggalkanku jauh dibelakang, aku akan mengusahakan langkahku untuk tetap bersama hidup, walaupun hidup sering meninggalkanku... tapi bagaimanapun hidup meninggalkanku, itulah hidupku, hidup yang tak bisa dimiliki orang lain, aku tak kecewa dengan hidupku!, bukannya sudah kewajibanku untuk menerima apa yang sudah diberikan Penciptaku....
Fiction story that inspired by woman life's that i saw at June, 20th 2008
Read More..

Kamis, 11 September 2008

aNotHer sIdE fRom LovInG...

Sejak awal aku memang tak bisa
tapi ku paksa untuk coba...
Rasa ini memang beda dari yang biasa kurasakan
tapi ku paksa untuk jalani sebagai wujud tanggung jawabku atas kodratku
kini aku hidup diantara 2 cinta dan kehidupannya,
yang satu membuat diriku merasa berada dimana seharusnya aku ada
dan yang lainnya membuat aku merasa manjadi diriku...

Tapi ku belum memilih,
aku duduk dipersimpangan jalan
untuk berpikir dengan otakku,
merasa dengan hatiku,
dan berserah pada Tuhanku...

choosing is the hardest way to do... but i must to do it even i feel heavy hearted, cause my life is a long road to travel and we just finish it...
Read More..

Senin, 18 Agustus 2008

rEaLize n tHanKs 2 God....

Bapak itu berumur 60 tahun, dan tiap harinya bekerja pendorong gerobak yang berisi tong-tong air bersih untuk dijual... 500 perak ia kumpulkan dari penjualan per tong air yang terjual....

Sore itu setelah semua pekerjaannya selesai lelaki senja ini berjalan pulang, tersirat kelelahan diwajahnya, tubuhnya yang kurus terlihat melengkung karena rangka tubuhnya terlalu lemah untuk mengangkat beban seberat itu seharian, tapi kulihat sedikit gurat rasa bahagia di wajah kusamnya... ya, gurat bahagia, mungkin karena ia akan mengakhiri kerja kerasnya dihari ini dan segera bertemu dengan keluarga bahagianya...

Kejauhan kulihat lelaki ini berjalan lirih menuju sebuah bangunan kecil, tikar tipis dan terlihat beberapa bantalan kapuk diatasnya, sebuah kompor minyak tanah yang usang dan sebuah kotak kayu bersekat tempat ia meletakkan baju dan alat-alat rumah tangga lainnya, semua berada dalam satu ruangan yang sama, tak ada sekat pemisah. Kecil, pengab dan gelap, tiga kata itulah yang tepat menggambarkan ruangan yang ia sebut rumah...

Tapi tak kulihat seorangpun dirumah itu, " entah anaknya? atau entah isterinya? tak ada siapapun !!! " tak adakah orang disamping bapak ini untuk berkeluh kesah ataupun hanya untuk berbagi kebahagian... " ah... tak bisa kubayangkan hidup sendiri dengan beban berat dan tak ada seseorang untuk berbagi... "

Istrinya meninggalkan dirinya beberapa tahun yang lalu karena tidak tahan dengan kehidupan tak berpunya itu, bukankah seorang istri harus menerima apapun keadaan keluarganya? dan dengan kelembutan wanitanya ia berusaha menyokong lelakinya untuk tak lemah menghadapai hidup, bukankah itu tugas seorang istri? tapi sudahlah tak layak aku untuk tidak terima pada istri bapak ini...

Jangankan istrinya yang meninggalkannya, kebahagian memperoleh buah hatipun seakan tak layak untuk didapatkannya, tak ada anak, tak ada rasa menjadi seorang ayah...

" Aku tak mengerti kenapa Tuhan sekejam itu pada bapak ini? tapi aku tahu bahwa Tuhan menciptakan bapak ini agar mata kita melihat, hati kita merasa dan tangan kita berbuat...
Read More..

Rabu, 30 Juli 2008

wHo arE tHey tO jUdgE Us...

aku keluar, dan ketika aku keluar dari pintu itu maka aku harus siap dengan segala sesuatu yang ada di luar sana, keluar dari pintu yang selama ini menyembunyikanku dari dunia ini, dunia yang selalu menghakimi. Aku melangkah ragu sambil menguatkan hatiku untuk ini,

" tuh... orang itu gitu deh jadinya, makanya klo gede jangan gaul yang macem-macem! " sayup kudengar seorang ibu menasehati anaknya. Bagaimana bisa seorang anak sekecil itu bisa memahami permasalahan seperti ini.

Hari ini kurasa panas sekali, sinar matahari seolah ingin sekali membakar kulitku yang rapuh, kulitku kini tak sekuat seperti dulu ia melindungi tubuhku. Akhirnya aku tiba disuatu tempat yang bagiku seperti sebuah ruangan pengadilan, karena disinilah keputusan akhir dimana kehidupan cintaku akan berakhir.

Aku duduk dibagian samping ruangan itu, tepat disebelah dinding dari kaca yang membatasi ruangan ini dengan udara di luar yang panas dan berpolusi dan aku bisa membebaskan pandanganku pada bagian luar ruangan ini, ruangan ini dipenuhi dengan banyak orang, mereka bersosialisasi dengan kerabat dan keluarga dengan sangat hangat sambil menyantap hidangan yang nikmat, kehangatan yang pernah aku rasakan dengan keluarga, teman dan bahkan gadisku, namun sekarang tidak ada lagi kehangatan seperti itu, makanan yang nikmat pun menjadi tawar rasa di mulutku.

Kuarahkan pandanganku keluar dinding kaca itu, kulihat sesosok tubuh yang kukenal baik bejalan mendekati ruangan ini, ya... dialah seorang gadis penghuni hatiku. Tak tahu mengapa kali ini dia kelihatan lebih cantik dari biasanya, wajahnya berseri bagai seri matahari pagi.
" Halo ganteng !!! " teriaknya itu sambil tangannya mencolek muka ku, begitulah kebiasaannya ketika berjumpa denganku, kebiasaan yang sebentar lagi tak akan bisa aku rasakan baik dengannya maupun dengan wanita lain.

" Tumben ketemuan siang-siang gini? kangen yah !" Senyum terlepas indah dibibirnya, membuat aku tak tega sedikitpun untuk melakukan sesuatu yang menghapus senyum itu dari bibirnya. " Aku pengen kita bicara serius! " bicaraku kaku, " asyik!... pasti kamu pengen melamarku atau langsung menikah aj!" canda nya sambil tertawa lepas, dia memang gadis yang ceria dan aku semakin tak sanggup memadamkan api keceriannya.

" aku mau hubungan kita berakhir sampai disini saja " sesaat bibirku kaku berucap. Kulihat matanya nanar menatapku, keceriannya berganti menjadi kekakuan.

"tapi kenapa?"
"apa yang salah?"
"aku tak mengerti, ada apa ini!" jawabnya emosi.
"aku tak mau kamu menghabiskan waktu dengan orang yang salah sepertiku, aku tak mau kamu dan anak kita kelak hidup sepertiku!" sahutku sambil pergi melangkah meninggalkannya.

Aku pergi meninggalkan gadisku, aku telah menghapus keceriaanya dan menggantikannya dengan isak tangis, orang seperti apa aku ini! gadisku begitu mencintaiku tapi aku telah tega menyakiti hatinya. Aku telah mematahkan hatinya tanpa penjelasan apapun baginya... Apa yang bisa aku jelaskan padanya? Tak ada!... bukannya orang-orang seperti aku tak layak untuk cinta dan kasih sayang seorang manusia, bahkan aku pun tak punya tempat dalam tempat dimana kaki ku sekarang berpijak.

Dan mereka, manusia-manusia itu, manusia penjilat tak tahu malu, bermuka dua atau apalah sebutannya... selalu punya dua sisi dalam kehidupannya, didepan bersimpati tetapi jika berkesempatan mereka berhujat dibelakang, who are they to judge us... berbicara bak dewa.

Tapi sudahlah... aku terima semua yang dibuatkan oleh penciptaku, tak ada kata menyesal dan sedih walapun aku dan virus itu telah menyatu...
Read More..

Senin, 07 Juli 2008

sTop wOmEn TraffiCkiNg !!!

Aku terdiam, karena itulah saat-saat merdekaku, karena sesudah aku berdiam aku hanyalah seseorang bak robot, tak merasakan emosi apapun. Tubuhku bagai mesin yang terus bekerja untuk sesuatu yang tak ku inginkan.


Tak bisa kubayangkan aku dipaksa berpisah dengan keluarga dan orang-orang yang kusayangi pada umur yang masih belia, umur dimana aku seharusnya bermain dengan teman sebayaku. Aku harus merelakan tubuhku dinikmati oleh pejantan-pejantan itu.


“ Sudahlah lupakan saja, sudah tidak ad pilihan lagi bagi orang seperti kita!, Nikmati sajalah keadaan ini. “


kata-kata itulah yang selalu teringat di kepalaku. Kata yang mendorong aku untuk membuat pilihan bagi diriku, tapi aku sudah tidak bisa membuat pilihan itu lagi, sudah terlambat. Kemudaanku membuat aku terlalu bodoh untuk menolak semua ini, Hidupku gamang, hidup yang kumiliki sudah direnggut dariku, hidup yang aku jalani bukan hidupku lagi.

“ Karena aku sudah dijual.... !!! “.

Read More..

Selasa, 24 Juni 2008

cAn yOu dO tHis... ?

Aku..., aku menitih langkah dengan berat, langkah yang tak terarah, langkah yang aku tatihkan bertahun-tahun dan terasa semakin melelahkan tiap waktunya. Aku seorang wanita tua... tapi aku tak yakin wanita tua bisa melakukan apa yang aku lakukan. Aku tak berpunya, aku tak punya rumah, bersamaku hanya ada rangkaian besi tua beroda yang mereka sebut gerobak tua, tapi bagiku itulah rumahku, rumah yang aku dorong tiap hari.

Rumah..., rumah itu indah bagiku, tempat dimana aku sembunyi dari panas yang membakar dan angin malam yang tiap harinya memaksa masuk kedalam tubuh rentaku. Didalam rumah itu secarik tubuh renta, kecil dan ringkuk terbaring. Tubuh itu adalah tubuh seorang lelaki yang aku sebut suami, tubuh yang sama yang pernah berpeluh keringat berusaha mengumpulkan sekeping kebahagiaan bagiku. Namun tubuh itu sekarang tak berdaya pada hidup, tubuh itu sakit dan ingin segera menyatu dengan tanah.

Anak..., aku pun tak ingat apakah aku pernah memiliki buah cinta itu?, yang aku ingat waktu itu ada seorang gadis kecil yang kutimang dengan kedua tanganku dan memanggil aku dengan sebutan ibu dan bapak pada suamiku. Gadis kecil manis yang mirip dengan suamiku. Berpuluh tahun yang lalu gadisku ini berusaha mengubah hidup kami, ia pergi ke negeri orang. Aku sangat senang pada waktu itu... ternyata gadis kecilku sedah menjadi dewasa dan ingin sekali membahagiakan aku dan suamiku yang sudah mulai lelah ini, tapi impianku untuk menikmati masa tua ku tak direstui oleh Penciptaku, gadisku hilang tak ad kabar. Aku kehilangan!... ya dia hilang, tak tahu bagaimana nasibnya di negeri orang, tapi aku juga ta punya daya untuk mencarinya.

Aku takut, aku tak tahu sampai kapan aku harus berjalan dengan rumah dan suamiku, aku tak punya tempat untuk memberhentikan rumah dan suamiku. Aku takut!... aku takut dengan orang-orang berseragam itu!, orang-orang berbadan tegap yang selalu ingin berusaha menyingkirkan kami dengan alasan keindahan kota dan kenyamanan masyarakat, tapi bukankah kami juga merupakan bagian dari keindahan hidup ini?, dan bukankah kami juga bagian darimasyarakat itu?, tapi kenapa mereka tidak mempedulikan keindahan hidup dan kenyamanan hidupku?.

Sore itu..., sore itu kulihat mata seorang anak lelaki, pandangan mata manusia yang selama ini membuat aku dan suamiku bertahan hidup. Ya... itu adalah mata iba, mata iba itu terus menatapku, gamang melihat padaku, ia ragu apakah harus berhenti kepadaku atau terus mengejar pandangan indah hidupnya, keindahan yang takkan pernah aku dapatkan. Mata iba itu masih bingung untuk memberikan sedikit hidup padaku, mata itu hilang, mata itu lebih memilih bertatap pada pijar lampu kota. Aku tak kecewa, paling tidak aku tahu mata iba itu telah sedikit memberikan aku tenaga untuk melewati hari ini. Dan bukankah mata muda itu masih memiliki banyak waktu untuk memperhatikan dan melakukan sesuatu yang lebih baik untuk sekitarnya.

Aku lelah!, tapi aku tak ingin berhenti. Aku tak ingin hidup meninggalkanku jauh dibelakang, aku akan mengusahakan langkahku untuk tetap bersama hidup, walaupun hidup sering meninggalkanku... tapi bagaimanapun hidup meninggalkanku, itulah hidupku, hidup yang tak bisa dimiliki orang lain, aku tak kecewa dengan hidupku!, bukannya sudah kewajibanku untuk menerima apa yang sudah diberikan Penciptaku....
Fiction story that inspired by woman life that i saw at June, 20th 2008
Read More..